Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Berbicara tentang
menjaga lisan, Menjaga lisan itu sangatlah di anjurkan. Rasulullah SAW,
berwasiat kepada Ali bin abi thalib :
“Wahai
ali, Allah tidak menciptakan dalam diri manusia yang lebih utama dari pada
lisan. Lisanlah yang menyebabkan seseorang masuk surge, dan lisan pula yang
menyebabkan seseorang masuk ke neraka, maka jagalah lisan itu, karena ia
(bagaikan) anjing yang galak”
Salah
satu cara untuk menjaga lisan adalah bersikap diam. Diam itu adalah emas yang
dapat menghindakan diri dari kesalahan berbicara. Karena orang yang salah
berucap, perkataannya tidak dapat ditarik kembali. Meskipun dengan cara meminta
maaf.
Diam merupakan sikap bijaksana dalam
menjaga keselamatan diri dari perbuatan munkar atau pembicaraan yang tiada
guna. Seringkali terjadinya pertengkaran, dendam, perdebatan, permusuhan,
sampai pembunuhan seperti yang sering terjadi di zaman sekarang ini. Itu semua
disebakan oleh lisan, lisan itu sangat tajam melebihi ketajaman pedang.
Meskipun diam itu terlihat mudah,
tetapi sedikit sekali orang yang mampu melaksanakannya, lebih-lebih bagi orang
yang suka berbicara. Sebagaimana yang telah dijelaskan Rasulullah saw dalam
sabdanya :
“Diam adalah kebijaksanaan dan sedikit
orang yang mampu melakukannya”
Muhammad
bin Wasi’ berkata kepada Malik bin Dinar
“Wahai
Abu Yahya! Menjaga lisan itu lebih berat dari pada menjaga uang dinar atau uang
dirham!”
Rasulullah
menganjurkan untuk mendekati orang yang diam dan berwibawa, sebab dia akan
mengajarkan berbagai hikmah dan keutamaan. Hikmah itu banyak ditemukan pada
orang yang diam, bukan pada orang yang banyak bicara.
Rasulullah
saw bersabda :
“Apabila
kamu melihat orang mukmin yang pendiam lagi berwibawa, maka dekatilah dia.
Sesungguhnya dia akan mengajarkan hikmah”
Orang
bijaksana akan selalu berpikir panjang sebelum mengucapkan sebuah kalimat,
mengenai dampak positif dan negatifnya suatu perkaran.
Dalam
hal ini, Rasulullah saw bersabda :
“Sesungguhnya
lisan seorang mukmin itu berada di belakang hatinya. Apabila hendak mengatakan
sesuatu, ia mempertimbangkan dengan hatinya, kemudian ia laksanakan dengan
lisannya. Adapun lisan orang munafik itu ada di depan hatinya.
Apabila ia menginginkan sesuatu ia laksanakan dengan lisannya tanpa
mempertimbangkan dengan hatinya.”
Untuk
itu, kita diharuskan untuk menjaga lisan. Karena lisan adalah cerminan dari
kepribadian seseorang yang berakhlak. Sebab diam, selain menyelamtakan diri
juga menjauhkan dari murka Allah. Sampai Nambi Sulaiman as bin Dawud berkata : “Manakala perkataan laksana perak, maka diam
itu laksana emas”
Semoga
bermanfaat. Wassalamu’alaikum Wr.Wb.