Happy Cute Box Bear

Laman

Jumat, 23 September 2016

Pentingkah menjaga lisan???




Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Berbicara tentang menjaga lisan, Menjaga lisan itu sangatlah di anjurkan. Rasulullah SAW, berwasiat kepada Ali bin abi thalib :

“Wahai ali, Allah tidak menciptakan dalam diri manusia yang lebih utama dari pada lisan. Lisanlah yang menyebabkan seseorang masuk surge, dan lisan pula yang menyebabkan seseorang masuk ke neraka, maka jagalah lisan itu, karena ia (bagaikan) anjing yang galak”

          Salah satu cara untuk menjaga lisan adalah bersikap diam. Diam itu adalah emas yang dapat menghindakan diri dari kesalahan berbicara. Karena orang yang salah berucap, perkataannya tidak dapat ditarik kembali. Meskipun dengan cara meminta maaf.

Diam merupakan sikap bijaksana dalam menjaga keselamatan diri dari perbuatan munkar atau pembicaraan yang tiada guna. Seringkali terjadinya pertengkaran, dendam, perdebatan, permusuhan, sampai pembunuhan seperti yang sering terjadi di zaman sekarang ini. Itu semua disebakan oleh lisan, lisan itu sangat tajam melebihi ketajaman pedang.

Meskipun diam itu terlihat mudah, tetapi sedikit sekali orang yang mampu melaksanakannya, lebih-lebih bagi orang yang suka berbicara. Sebagaimana yang telah dijelaskan Rasulullah saw dalam sabdanya :

“Diam adalah kebijaksanaan dan sedikit orang yang mampu melakukannya”

Muhammad bin Wasi’ berkata kepada Malik bin Dinar

“Wahai Abu Yahya! Menjaga lisan itu lebih berat dari pada menjaga uang dinar atau uang dirham!”


Rasulullah menganjurkan untuk mendekati orang yang diam dan berwibawa, sebab dia akan mengajarkan berbagai hikmah dan keutamaan. Hikmah itu banyak ditemukan pada orang yang diam, bukan pada orang yang banyak bicara.


Rasulullah saw bersabda :

“Apabila kamu melihat orang mukmin yang pendiam lagi berwibawa, maka dekatilah dia. Sesungguhnya dia akan mengajarkan hikmah”


Orang bijaksana akan selalu berpikir panjang sebelum mengucapkan sebuah kalimat, mengenai dampak positif dan negatifnya suatu perkaran.

Dalam hal ini, Rasulullah saw bersabda :

“Sesungguhnya lisan seorang mukmin itu berada di belakang hatinya. Apabila hendak mengatakan sesuatu, ia mempertimbangkan dengan hatinya, kemudian ia laksanakan dengan lisannya. Adapun lisan orang munafik itu ada di depan hatinya. Apabila ia menginginkan sesuatu ia laksanakan dengan lisannya tanpa mempertimbangkan dengan hatinya.”


Untuk itu, kita diharuskan untuk menjaga lisan. Karena lisan adalah cerminan dari kepribadian seseorang yang berakhlak. Sebab diam, selain menyelamtakan diri juga menjauhkan dari murka Allah. Sampai Nambi Sulaiman as bin Dawud berkata : “Manakala perkataan laksana perak, maka diam itu laksana emas”


Semoga bermanfaat. Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

4 anugerah yang allah swt tetap berikan kepada orang yang berdosa.




Dalam kitab “Nashaihul ibad”  telah dijelaskan.
Saad bin Hilal ra. Mengatakan, bahwa apabila manusi berbuat dosa, maka allah tetap memberikan anugerah kepadanya :


1.      Dia tidak dihalangi untuk mendapat rezeki
2.      Dia tidak di halangi untuk sehat.
3.      Allah tidak memperlihatkan dosanya.
4.      Allah tidak menyiksanya di dunia.



Hikayat :

            Diceritakan bahwa Nabi Adam berkata, “sesungguhnya Allah member 4 macam kemuliaan kepada umat Muhammad yang tidak Allah berikan kepadaku, yaitu”:


1.      Penerimaan tobatku di Mekkah, sedangkan umat Muhammad bisa tobat di sembarang tempat.


2.      Aku berpakaian ketika aku berdosa, kemudian Allah jadikan aku telanjang bulat. Sedangkan umat Muhammad tetap di beri pakaian, meskipun ia durhaka kepada Allah dalam keadaan telanjang.


3.      Ketika aku berbuat dosa, Allah memishkan aku dan istriku (Adam di kaki gunung Himalaya,Hawa di Jeddah). Sedangkan umat Muhammad yang berbuat dosa tidak di pisahkan dengan istrinya.


4.      Aku berbuat dosa di surge, lalu allah mengusirku dari surge ke dunia. Sedangkan umat Muhammad berbuat dosa di luar surge, Allah tetap memasukkan mereka ke surge apabila mereka bertobat.


Sabtu, 04 Juni 2016

Maaf?


" MEMAAFKAN ITU MULIA,MEMINTA MAAF ITU KESATRIA "



“Orang yang paling sabar di antara kamu ialah orang yang memaafkan kesalahan orang lainpadahal dia berkuasa untuk membalasnya.” (Riwayat Ibnu Abiduyya danBaihaqi)



Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh (jahil atau tidak mengetahui)
(Surah Al- A’raf 7: Ayat 199)



Nabi Shallallahu'ala yhi wasallam bersabda,
“Tidaklah seorang itu suka memaafkan, melainkan dia akan semakin mulia.” [HR Muslim]



Memaafkan orang lain tak semudah kelihatannya.
Kadang, tangan telah berjabat, bibir telah mengatakan "Aku sudah memaafkanmu," tetapi bagaimana dengan hati kecil, apakah Anda telah memaafkan orang lain dengan tulus?
Apakah Anda sudah merelakannya dan tidak akan mengungkit hal itu di kemudian hari?
Sekalipun sulit, memaafkan adalah hal yang mulia, memaafkan adalah kemampuan yang bisa dilakukan setiap orang, termasuk Anda. Pilihan terletak di tangan anda. Jika anda memilih kebahagiaan, kemaafan adalah sesuatu yang indah sebaliknya jika anda lebih suka berdendam, jiwa anda tidak akan damai dan senantiasa sesak seolah-olah ada yang menusuk di dada.



Di dalam al-Quran, terdapat begitu banyak ayat-ayat tentang sifat yang mulia ini. Antaranya ialah:
mendapat keampunan daripada Allah Subhanahu
wa ta'ala. “..hendaklah mereka memaafkan serta melupakan kesalahan orang-orang itu; tidakkah kamu suka supaya Allah mengampunkan dosa kamu? Dan (ingatlah) Allah Maha Pengampun lagi Maha Mengasihani”. (QS An-Nuur [24] : 22)



Mendapat ridha Allah Subhanahu wa ta'ala.
“...sesiapa yang memaafkan (kejahatan orang) dan berbuat baik (kepadanya), maka pahalanya tetap dijamin oleh Allah (atas tanggungan Allah dengan diberi balasan yang sebaikbaiknya). Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang berlaku zalim”. (QS Asy-Syura [42] : 40)



عن أبي هريرة  أن رسول الله صلى الله عليه و سلم رقي المنبر فقال : آمين آمين آمين فقيل له : يارسول الله ما كنت تصنع هذا ؟ ! فقال : قال لي جبريل : أرغم الله أنف عبد أو بعد دخل رمضان فلم يغفر له فقلت : آمين ثم قال : رغم أنف عبد أو بعد أدرك و الديه أو أحدهما لم يدخله الجنة فقلت : آمين ثم قال : رغم أنف عبد أو بعد ذكرت عنده فلم يصل عليك فقلت : آمين  قال الأعظمي : إسناده جيد
Dari Abu Hurairah: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam naik mimbar lalu bersabda: ‘Amin, Amin, Amin’. Para sahabat bertanya : “Kenapa engkau berkata demikian, wahai Rasulullah?” Kemudian beliau bersabda, “Baru saja Jibril berkata kepadaku: ‘Allah melaknat seorang hamba yang melewati Ramadhan tanpa mendapatkan ampunan’, maka kukatakan, ‘Amin’, kemudian Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang mengetahui kedua orang tuanya masih hidup, namun tidak membuatnya masuk Jannah (karena tidak berbakti kepada mereka berdua)’, maka aku berkata: ‘Amin’. Kemudian Jibril berkata lagi. ‘Allah melaknat seorang hambar yang tidak bershalawat ketika disebut namamu’, maka kukatakan, ‘Amin”.” Al A’zhami berkata: “Sanad hadits ini jayyid”.




Ya Allah, di KETIKA aku melakukan kesalahan kepada orang lain, anugerahkanlah KEKUATAN untuk meminta kemaafan, manakala di waktu orang melakukan kesalahan kepadaku, nugerahkanku KEKUATAN memberi kemaafan. Aamiin ya Rabb al 'aalamiin






MEMAAFKAN TIDAK MENGUBAH MASA LALU,
TETAPI MEMPERMUDAH MASA DEPAN.